MAKALAH MENYEBARKAN SALAM
BAB
I
PENDAHULAN
A. Latar Belakang
Bila Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita bahwa salah
satu di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah salam tidak diucapkan kecuali kepada orang-orang yang dikenal saja, dan
kaum muslimin telah mengganti kalimat salam tersebut dengan kalimat-kalimat
yang sama sekali jauh dari tuntunan sunnah, hari ini kabar beliau tersebut
telah semakin nyata kebenarannya.
Terbukti pada hari ini, sebagian kaum muslimin
mengucapkan salam hanya kepada orang-orang tertentu saja dari kelompoknya,
partainya, golongannya, kaumnya, sukunya, atau hanya kepada orang-orang yang
dikenalnya saja. Lebih dari itu, sebagian kaum muslimin yang mengaku dirinya
sebagai akademisi muslim, sarjanawan muslim, cendekiawan muslim, dan para
ilmuwan muslim yang belajar Islam kepada Barat dan para orientalis telah
mengganti kalimat salam dengan kalimat-kalimat yang menurut mereka lebih
modern, gaul, dan maju, dan sesuai dengan zaman hari ini, seperti ‘selamat
pagi, selamat siang, selamat malam, dan kalimat-kalimat lainnya’, yang tidak
lain hanyalah adopsi dan impor dari Barat dan orang-orang kafir.
Namun atas nama
kemajuan, pluralis, liberalis, mereka katakana ini bagian dari pada Islam dan
bukti bahwa Islam sebagai dari rahmatan lil’alamin.
B. Tujuan
Tujuan pembuatan
makalah ini dilaksanakan oleh para mahasiswa yang memiliki tujuan dan maksud
tertentu. Adapun tujuan kami
1.
Menuntaskan tugas mata kuliah
2.
Mahasiswa dapat mengetahui makna dan
hukum menyebarkan salam.
3.
Mahasiswa dapat memahami makna dari
salam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Salam
Secara
harfiah salam berasal dari kata salima- Yasiamu-Salaamatan,
yang berarti selamat. Lafad ini
dipakai dalam beberapa ayat Al-Quran, misalnya pada QS. Al-An’am:54, yang
artinya ; “ Apabila orang – orang yang
beriman kepada ayat – ayat Kami itu dating kepadamu, maka katakanlah; “
Salaamun’Alaikum ( Mudah – mudahan Allah melimpahkan keselamatan atas kamu),
Tuhan-mu telah menetapkan atas dir-Nya kasih saying.”Kata salam yang merupakan isim mashdar dari
kata salima memiliki makna yang cukup banyak, diantaranya keselamatan,
kedamaian, ketenteraman, penghormatan, ketundukan dan ketaatan. Inilah makna –
makna harfiah yang ada dalam salam. Dari kata salima muncul kata aslama yang artinya menyelamatkan, mendamaikan,
menenudukkan, dan seterusnya.[1]
Dari kata aslama inilah muncul kata islam yang kemudian menjadi nama dari agama
kita .
Al-jarjani mendifinisikan salam sebagai selamatnya
seseorang dari bencana baik di dunia maupun di akhirat (tajarrud al-nafsi’an
al-mihnati al-darain).[2]
Dari definisi ini dijelaskan bahwa salam merupakan tujuan utama dari Islam,
yakni selamatnya seorang Muslim di dunia dan di akhirat. Salam jugamerupakan
doa yang berisi permohonan kepada Allah Swt. Agar orang yang diberi salam
memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Karena begitu pentingnya isi dari salam , maka Allah
memerintahkan kepada orang – orang yang beriman agar selalu mengucapkan atau
menyebarkan salam kepada orang lain yang seiman, yang dijelaskan dalam :
1.
Al
Quran
Allah SWT
berfirman : “ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah
bukan rumhamu sebelum meminta izin dan member salam kepada penguninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat” (An Nuur [24]: 27).[3]
Allah SWT
berfirman: “…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari ) rumah–rumah (ini)
hendaklah kamu member salam kepada dirimu sendiri. Salam yang ditetapkan dari
sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan
ayat–ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya” (An Nuur)
2.
Hadist
Rasulullah Saw bersabda:"Demi Dia yang diriku berada di
tangan-Nya! Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian
tidak akan beriman hingga kalian saling berkasih-sayang. Maukah kalian saya
tunjukkan suatu perkara yang apabila kalian kerjakan, maka akan tumbuh rasa
kasih-sayang di antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian!" (HR.
Muslim).
Rasulullah SAW bersabda:"Wahai manusia! Sebarkanlah
salam, berilah makanan,sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia
lain tengah tertidur; niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat
sejahtera" (At Tirmidzi).
3.
Sunnah
Para Nabi dan Rasul
Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW
bersabda:"Ketika Allah telah menjadikan Adam, maka Allah
memerintahkan:"Pergilah kepada para Malaikat dan ucapkan salam kepada
mereka yang tengah duduk. Dengarkanlah jawaban salam mereka, karena itu akan
menjadi ucapan salam bagi kamu dan anak cucumu kelak!" Maka pergilah Nabi
Adam dan mengucapkan:"Asalaamu ‘alaikum!" Para Malaikat
menjawab:"Assalaamu ‘alaika warahmatullaah!"
Mereka menambah warahmatullaah" (HR. Bukhary dan Muslim).
Al Qur'an menceritakan kisah Ibrahim AS:"(Ingatlah)
ketika mereka msuk ke tempatnya lalu mengucapkan:"Salaaman", Ibrahim
menjawab:"Salaamun" ..." (Qs AdzDzaariyaat).[4]
4.
Perilaku
Para Sahabat
Thufail
Bin Ubay Bin Ka'ab pernah datang ke rumah Abdullah Bin Umar; lalu keduanya
pergi ke pasar. Ketika keduanya sampai di pasar, tidaklah Abdullah Bin Umar
menemui tukang rombeng, penjual toko, orang miskin dan siapa saja melainkan
mesti memberi salam kepada mereka.
Suatu hari, Thufail Bin Ubay Bin Ka'ab datang lagi ke rumah
Abdullah Bin Umar, dan diajak lagi ke pasar. Maka Thufail bertanya:"Perlu
apa kita ke pasar? Kamu sendiri bukanlah seorang pedagang dan tidak ada
kepentingan menanyakan harga barang atau menawar barang.Lebih baik bila kita
duduk bercengkerama di sini". Abdullah Bin Umar menjawab:"Hai Abu
Bathn! Sebenarnya kita pergi ke pasar hanya untuk memasyarakatkan salam. Kita
beri salam kepada siapa saja yang kita temui di sana!" (Imam Malik dalam
kitab Al Muwatha' dengan sanad shahih).
B. Hukum
1. Mengucapkan Salam
Hukum
mengucapkan salam adalah sunnah yang dikuatkan (sunnah mu'akadah). Rasulullah
SAW bersabda:"Jika seseorang di antara kalian berjumpa dengan saudaranya,
maka hendaklah memberi salam kepadanya. Jika antara dia dan saudaranya
terhalang pepohonan, dinding atau bebatuan; kemudian mereka berjumpa kembali,
maka ucapkan salam kepadanya" (HR. Abu Daud).
Ketika
menyampaikan salam, hendaknya seseorang memperdengarkan ucapan salamnya.
Diriwayatkan oleh Tsabit bin ‘Ubaid rahimahullahu :
أَتَيْتُ
مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ: إِذَا سَلَّمْتَ فَأَسْمِعْ،
فَإِنَّهَا تَحِيَّةٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكَةٌ طَيِّبَةٌ
Aku pernah mendatangi suatu majelis yang di situ ada
Abdullah bin Umar RA. Maka beliau berkata, ‘Apabila engkau mengucapkan salam,
perdengarkan ucapanmu. Karena ucapan salam itu penghormatan dari sisi Allah
yang penuh berkah dan kebaikan’.” (HR. Al-Bukhari).
2.
Menjawab
Salam
Sedangkan
hukum menjawab salam adalah wajib. Sebagaimana firman Allah SWT:"Apabila
kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau
balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala
sesuatu" (An Nisaa' [4]: 86).
3.
Ucapan
Salam
Ucapan
salam yang lengkap adalah "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh" yang artinya "semoga seluruh keselamatan, rahmat dan
berkah Allah dilimpahkan kepada kalian". Ucapan salam ini sesuai dengan
petunjuk Rasulullah SAW ketika beliau tengah bersama isterinya, ‘Aisyah RA,
beliau bersabda:"Ini Jibril mengucapkan salam kepada kamu". Maka
‘Aisyah RA menjawab:"Wa ‘alaihissalaam warahmatullaahi wabarakaatuh"
(HR. Bukhary dan Muslim).
Idealnya seorang Muslim mengucapkan salam dengan lengkap, tetapi tetap diperkenankan seseorang untuk mengucapkan salam:
Idealnya seorang Muslim mengucapkan salam dengan lengkap, tetapi tetap diperkenankan seseorang untuk mengucapkan salam:
a. Assalamu’alaikum
b. Assalaamu’alaikum
warahmatullaah,
c. Assalaamu’alaikum
warahmatullaah wabarakaatuh (lengkap)
Semakin
lengkap ucapan salam seorang, maka semakin banyak pula keutamaan yang
diraihnya. Imran Bin Hushain RA menceritakan tentang seseorang yang mendatangi
Rasulullah SAW dan mengucapkan salam:"Assalaamu ‘alaikum!" Rasulullah
SAW menjawab salam tersebut, dan kemudian memberikan
komentar:"Sepuluh!" Kemudian datang orang lain yang mengucapkan
salam:"Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah!" Rasulullah SAW menjawab
dan kemudian memberikan komentar:"Duapuluh!" Dan datanglah orang
ketiga dan mengucapkan salam:"Assalaamu'alaikum warahmatullahi
wabarakaatuh!" Maka Rasulullah SAW menjawab:"Tigapuluh!" (HR.
Abu Daud dan Tirmidzi).
Demikianlah,
semakin lengkap ucapan salam seseorang, akan semakin banyak pula keutamaan yang
dia peroleh.
4.
Ucapan
Balasan Salam
Sedangkan
jawaban salam, minimal setara dengan ucapan salam; dan kalau bisa, malah
dilebihkan. Allah Ta'ala berfirman:" Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu" (An Nisaa' [4]:
86).Sehingga jawaban salam yang disyari'atkan adalah:
a. Bila
ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum" maka jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam", jawaban
lebih adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaah", dan jawaban
lengkapnya adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".
b. Bila
ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah" maka jawaban minimal
adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaah", dan jawaban lengkapnya
adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh".
c. Bila
ucapan salam "Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh" maka
jawaban minimal adalah "Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi
wabarakaatuh"
C. Adab Salam
Adapun
adab (tata cara) mengucapkan dan menjawab salam telah dijelaskan pula dalam
banyak Hadist, secara sistematis sebagai berikut;
1.
Kalimat
Salam
Hadist
dari Imran Bin Hushain ra, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan
mengucapkan “ASSALAMU’ALAI-KUM”, maka dijawab oleh Nabi SAW, lalu ia duduk.
Nabi bersabda; “ (Pahalany)Sepuluh.”
Kemudian datang lagi seorang yang lain member salam "Assalaamu ‘Alaikum
Warahmatullaah", Setelah
nabi menjawabnya, ia bersabda ; “ Dua Puluh”Kemudian
datang orang yang ketiga dan mengucapkan "Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaahi
Wabarakaatuh"maka Nabi
SAW menjawabnya dan bersabda ; Tiga
puluh.”
Dari
hadist ini, kita bias menyimpulkan, ada tiga kalimat salam dengan masing –
masing keutamaannya. Kemudian jika seseorang menitip salam kepada kita untuk
disampaikna kepada yang lain, maka hal ini juga pernah terjadi, sebagaimana
dijelaskan dalam hadist dari Aisyah RA; Rasullullah
SAW memberitahukan saya bahwa Jibril menyampaikan salam lewat dia untuk saya,
maka saya jawab; Wa’alaihissalam
Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Dalam
Kitab “Zaadul Ma’ad”, Ibnul Qayim menjelaskan; “ Apabila seseorang menyampaikan salam kepadamu dari orang lain (titip
salam), maka jawablah untuk yang menitip dan yang menyampaikan salam tersebut.”
Jadi kalimatnya, “Wa’alaihi Wa’alaikum
Salam Warahmatullahi Wabarakatuh”
2.
Adab
Memberi Salam
Secara
umum, mengucapakan atau memberi salam lebih baik dilakukan tanpa
mempertimbangkan waktu dan tempat, berdasarkan sabda Rasulullah SAW; Sebaik-baiknya manusia di sisi Allah ialah
orang yang memulai mengucapkan salam.” Hadist lainnya, “ Seseorang
bertanya;” Ya Rasulallah, kalau dua orang
yang bertemu, manakah di antara keduanya yang harus mendahului memeberi salam?
Rasulullah SAW menjawab: Ialah orang yang paling dekat kepada Allah”. Ada beebrapa adab yang harus diperhatikan
dalam menyebarkan salam, yaitu :
1.
Urutan
Salam
Sabda Rasulullah SAW :
a. Orang
yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan
b.Orang
yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk
c. Rombongan
yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang lebih banyak
d.
Memberi salam kepada anak kecil
e. Memberi
salam antara lelaki dan perempuan
f. Yang
meninggalkan tempat member salam kepada yang ditinggal.
g.Ketika
pergi meninggalkan atau pulang kerumah, ucapakanlah salam meski tak seorang pun
ada dirumah (malaikat yang akan menjawab).
h.Jika
bertemu berulang – ilang maka ucapkanlah salam setiap kali ketemu.
Pengecualian
kewajiban menjawab salam:
1.
Ketika sedang salat. Membalas ucapan
salam ketika salat membatalkan salatnya.
2.
Khatib, orang yang sedang membaca
Al-Qur’an, atau seseorang yang sedang mengumandangkan Adzan atau Iqamah, atau
sedang mengajarkan kitab-kitab Islam.
3.
Ketika sedang buang air atau berada di
kamar mandi.
Sikap dasar seorang Muslim adalah
mencoba memaklumi orang lain dan tidak meminta untuk dimaklumi. Urutan salam
inipun tidak harus menjadikan kita minta untuk dimaklumi. Misal orang tua sama
sekali tidak mau memberi salam kepada yang lebih muda, dan menuntut supaya
anak-anak muda itu yang harus terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya.
Sikap tuntutan seperti ini tentu saja berlebih-lebihan.Mestinya seorang Muslim
tidak terjebak dengan sikap kekanak-kanakan seperti ini.
2.
Mendahului
Salam
Terlepas
dari urutan dalam memberi salam, Rasulullah SAW mengajarkan untuk mendahului
dalam memberi salam. Diharapkan kita tidak pasif dalam mengucapkan salam, yaitu
sekedar menanti datangnya ucapan salam dari orang lain. Diharapkan pula kita
tidak menjadi orang yang suka menuntut orang lain untuk mengucapkan salam
duluan. Rasulullah SAW mengajarkan, justru yang memulai salam itulah orang yang
lebih mulia.
Sabdanya:"Seutama-utama
manusia bagi Allah adalah yang mendahului salam (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Seseorang
pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:"Ya Rasulullah, jika dua orang
bertemu muka, manakah di antara keduanya yang harus terlebih dahulu memberi
salam?" Rasulullah SAW menjawab:"Yang lebih dekat kepada Allah (yang
berhak terlebih dahulu memberi salam)" (HR. tirmidzi).
3.
Menjawab
Setara atau Lebih
Apabila
ada seseorang yang memberi salam kepada kita, maka idealnya kita memberikan
jawaban yang sama (setara). Misalkan seseorang mengucapkan salam kepada
kita:"Assalaamu ‘alaikum warahmatuulaah!" Minimal kita harus
menjawab:"Wa'alaikumussalaam warahmatullaah!"
Lebih
utama lagi, apabila kita memberikan jawaban yang lebih daripada ucapan salam
tersebut. Misalkan seseorang mengucapkan salam kepada kita:"Assalaamu
‘alaikum warahmatuulaah!" Maka akan lebih baik apabila kita
menjawab:"Wa'alaikumussalaam warahmatullaahi wabaraakatuh!"
Hal
ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala:"Apabila kamu dihormati dengan suatu
penghormatan, maka balaslah yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu".[5]
Jawaban
salam masih kurang setara apabila kita memberi jawaban:"Wa'alaikum salaam
...!" Harusnya, jawaban itu adalah:"Wa ‘alaikumus salaam ...!"
Perbedaan antara keduanya adalah: salaam dan as salaam. Kata salaam berarti keselamatan,
sedangkan kata as salaam memiliki makna seluruh keselamatan.Tentu saja tidak
setara antara keselamatan dan seluruh keselamatan.Jawaban "Wa'alaikum
salaam ..." mempunyai makna keselamatan atas kalian; sedangkan jawaban
"wa ‘alaikumus salaam ..." mempunyai makna seluruh keselamatan atas
kalian. Tentu saja jawaban "Wa'alaikum salaam (keselamatan atas
kalian)..." tidak setara apabila pemberi salam megucapkan:"Assalaamu
‘alaikum (Seluruh keselamatan atas kalian).
D. Keutamaan Salam
a. Mengucapkan
salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya
Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits Barra’ bin Azib, ia
berkata: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk
melakukan tujuh perkara, yaitu; menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah,
mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alhamdulillah, membantu orang yang
lemah, menolong orang yang dizhalimi, mengucapkan salam dan memenuhi sumpah.”
(Muttafaq alaih).
b. Menimbulkan
kasih sayang antar sesama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak
beriman sehingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu
perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar
sesamamu.” (HR. al Bukhari - Muslim).
c. Merupakan
amalan yang terbaik dalam Islam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang
laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah
amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab:
“Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang
telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari - Muslim).
d. Mendapatkan
berkah dan kebaikan dari Allah, sebagaimana firmanNya:
“Maka ketika kamu masuk rumah, ucapkan salam untuk dirimu sebagai penghormatan dari Allah yang berisi berkat dan kebaikan.” [6]
“Maka ketika kamu masuk rumah, ucapkan salam untuk dirimu sebagai penghormatan dari Allah yang berisi berkat dan kebaikan.” [6]
e. Termasuk di
antara perbuatan yang bisa memasukkan pelakunya ke dalam surga. Abu Yusuf
Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah mendengar Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
”Wahai manusia,
tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim, dan shalatlah ketika
orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” (HR.
At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”).Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW
bersabda :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ
تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا
فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga sampai
kalian beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian bisa saling
mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan terhadap satu amalan yang bila kalian
mengerjakannya kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara
kalian.” (HR. Muslim)[7]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demikian yang semestinya dilakukan oleh
setiap orang tua dan kaummuslimindalam menanamkan kebiasaan ini. Begitu pula
hendaknya yang ditempuh oleh seorang pengajar yang mendidik anak-anak.
Dinasihatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: “Seorang pengajar
apabila memasuki kelas hendaknya mengucapkan salam dengan mengatakan السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, dan hendaknya dia mengetahui bahwa
ini adalah perilaku Islami yang agung, yang memperkuat ikatan cinta dan
kepercayaan di antara murid, maupun antara pengajar dengan muridnya.”
Beliau
menambahkan: “Tidak sepantasnya salam yang diucapkan itu berupa kalimat
‘selamat pagi’ atau ‘selamat sore’. Namun tidak mengapa bila setelah
mengucapkan salam dia ucapkan perkataan itu dengan sedikit perubahan, seperti
misalnya ‘Semoga Allah berikan kebaikan padamu pagi ini’, sehingga ucapan itu
mengandung makna doa….”
Inilah tuntunan
Islam dalam mempererat hubungan persaudaraan di antara kaum muslimin. Tentunya,
harus kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan yang jauh dari tuntunan Rasulullah
SAW. Sebagai gantinya, menghidupkan sunnah yang demikian benderang ini dalam
kehidupan kita dan anak-anak kita. Wallahu A’lam.
B.
Saran
Untuk dapat mencapai suatu tujuan
yang sama yaitu mendapatkan keridhoan dari Tuhan Yang Maha Esa dan dapat
terjalin tali persaudaraan sesama umat khususnya muslim, maka seharusnya
1.
Diharapkan semua kalangan dapat
mengerti yang terkandung dalam makalah kami, agar kita bisa memahami tentang
ajaran islam yaitu meyebarkan salam.
2.
Dengan membaca makalah ini tentang
menyebarkan salam, seharusnya kita dapat menerapkan dalam kehidupan sehari –
hari sesuai dengan sunnah Rasulallah SAW Karena secara tidak langsung kita
dtelah menyebarkan kebaikan dengan mendoakan keselamatan orang lain dan diri
kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
HR
at-Tirmidzi (2694), Kitab Permohonan Izin dan Adab dari Rasulullah, Pasal Dalil
tentang Keutamaan Orang yang Memulai Memberi Salam.
HR
Abu Dawud (5197), Kitab Adab, Pasal Tentang Keutamaan Orang yang Memulai
Memberi Salam. Dishahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah (VII: 3382), Takhrij
al-Misykah (III: 4646), Shahih at-Targhib (III: 2703), dan Shahih al-Jami (I:
2011).
http://suarakomunitas.net/baca/5123/keutamaan--menyebarkan--salam.html
Masyhuri, ʻAbdul ʻAziz. Masalah keagamaan: hasil muktamar
dan munas ulama Nahdhatul Ulama kesatu-1928 s/d ketiga puluh, 2000. Agromedia
Pustaka, 2004. hlm. 106. ISBN9793762098.ISBN 9789793762098
Tidak ada komentar:
Posting Komentar