BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia kecuali
bertugas pokok untuk menyembah Khaliknya, juga bertugas untuk mengelola dan
memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar mereka dapat hidup sejahtera
dan makmur lahir batin.
Manusia diciptakan Allah selain menjadi hamba-Nya, juga
menjadi penguasa di atas bumi. Selaku hamba dan ‘khalifah’ manusia telah diberi
kelengkapan jasmaniah (fisiologis) dan rohaniah (mental psikologis). Inilah
yang membedakannya dengan makhluk yang lain, yang dinamakan juga dengan fitrah
atau potensialnya yang harus dikembangkan secara optimal. Untuk mengembangkan
potensi (fitrah) itu memerlukan pendidikan untuk mengarahkannya. Untuk lebih
jelasnya akan dibahas dalam bab berikut.
1.2 TUJUAN
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah tuntutan dari
dosen pembimbing mata kuliah sebagai tugas dan sebagai penunjang dalam proses perkuliahan
serta dapat menambah ilmu dan pengetahuan tentang fitrah (potensi) manusia,
serta dapat memahami hakekat serta pengembangannya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN FITRAH (POTENSI) MANUSIA
Secara etimologi fitrah berasal dari kata fathara yang
artinya ‘menjadikan’, secara terminologi fitrah adalah mencipta/menjadikan
sesuatu yang sebelumnya belum ada dan merupakan pola dasar yang perlu
penyempurnaan. Menurut Shanminan Zain “ bahwa fitrah adalah potensi laten atau
kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri manusia dibawah sejak lahir”.
Menurut Al Auzal “ fitrah adalah kesucian dalam jasmani dan rohani. Menurut
Ramayulis” : fitrah adalah : kemampuan dasar bagi perkembangan manusia yang
dianugrahkan oleh Allah SWT yang tidak ternilai harganya dan harus dikembangkan
agar manusia dapat mencapai tingkat kesempurnaan.
Dalam Al-Qur’an, dalam surat Ar-Rum ayat 30 dijelaskan, yaitu :
OÏ%r'sù
y7ygô_ur
ÈûïÏe$#Ï9
$ZÿÏZym
4
|NtôÜÏù
«!$#
ÓÉL©9$#
tsÜsù
}¨$¨Z9$#
$pkön=tæ
4
w
@Ïö7s?
È,ù=yÜÏ9
«!$#
4
Ï9ºs
ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhs)ø9$#
ÆÅ3»s9ur
usYò2r&
Ĩ$¨Z9$#
w
tbqßJn=ôèt
ÇÌÉÈ
Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama
dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan asli) itulah fitrah Allah
yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu tak ada perubahan atas fitrah
ciptaannya. Itulah agama yang lurus namun kebanyakan mereka tidak
mengetahuinya.”
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa fitrah adalah
suatu perangkat yang diberikan oleh Allah yaitu kemampuan dasar yang memiliki
kecenderungan berkarya yang disebut dengan potensialitas dan manusia diciptakan
Allah dalam struktur yang paling tinggi, yaitu memiliki struktur jasmaniah dan
rohaniah yang membedakannya dengan makhluk lain.
Jadi menurut permakalah fitrah adalah suatu kemampuan
dasar yang ada pada tiap-tiap diri manusia yang perlu dikembangkan untuk
mencapai perkembangan yang sempurna melalui bimbingan dan latihan.
2.2 HAKEKAT
FITRAH (POTENSI) MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia kecuali
bertugas pokok untuk menyembah khaliknya, juga bertugas untuk mengelola dan
memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar mereka dapat hidup sejahtera
dan makmur lahir batin. Untuk melaksanakan fungsinya sebagai khalifah Allah
membekali manusia dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka
pendidikan Islam merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang
dimiliki manusia secara maksimal. Sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk
konkrit, dalam artian berkemampuan
menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, masyarakat dan
lingkungan. Sebagai realisasi fungsi dan tujuan penciptaannya sebagai khalifah.
Walaupun berfikir dan bernalar diakui sebagai salah
satu kemampuan dasar manusia, namun kemampuan untuk menemukan jalan kebenaran
tidaklah mutlak tanpa petunjuk Ilahi, pikiran dan penalaran dalam
perkembangannya memerlukan pengarahan dan latihan yang bersifat kependidikan
yang sekaligus mengembangkan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya dalam pola
keseimbangan dan keserasian yang ideal.
Oleh karena itu pendidikan Islam tidak hanya menekankan
pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada intelektualisasi penalaran,
tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana sasarannya adalah pembentukan
kepribadian yang utuh dan bulat maka pendidikan Islam pada hakekatnya adalah
menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah dalam
kitab suci Al-Qur’an
$ygr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#qè=äz÷$#
Îû
ÉOù=Åb¡9$#
Zp©ù!$2
Artinya : “Wahai orang mukmin, masuklah ke dalam
Islam secara total menyeluruh dan berkebulatan. (QS. Al-Baqarah : 208)
2.3 MAKNA
FITRAH ( POTENSI )
Makna fitrah ( potensi ) menurut Hasan Langgulung
menyatakan bahwa, ketika Allah menghembuskan/meniupkan ruh pada dirinya manusia
(pada proses kejadian manusia secara fisik maupun nonfisik) maka pada saat itu
pula manusia (dalam bentuk sempurna) mempunyai sebagian sifat-sifat ketuhanan yang
tertuang dalam Al-Asmahusna. Hanya saja kalau Allah serba maha, sedangkan
manusia hanya diberi sebagiannya, sebagian sifat-sifat ketuhanan yang menancap
pada diri manusia dan dibawanya sejak lahir itulah yang disebut fitrah.
Misalnya, Al-Alim (maha mengetahui), manusia hanya
diberi kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan. Al-Rahman dan Al-Rahim (maha
pengasih maha penyayang) manusia juga diberi kemampuan untuk mengasihi dan
menyayangi, Al-Afuw Al-Ghafar (maha pema’af maha pengampun), manusia juga
diberi kemampuan untuk mema’afkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Al
Khalik (maha pencipta) manusia juga diberi kemampuan untuk mengkrerasikan
sesuatu, membudayakan alam.
2.4 MACAM-MACAM
FITRAH ( POTENSI )
1. Potensi
Fisik (Psychomotoric)
Merupakan
potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk berbagai
kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup.
2. Potensi
Mental Intelektual (IQ)
Merupakan
potensi yang ada pada otak manusia fungsinya : untuk merencanakan sesuatu untuk
menghitung, dan menganalisis, serta memahami sesuatu tersebut.
3. Potensi
Mental Spritual Question (SP)
Merupakan
potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri manusia yang
berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak manusia.
4. Potensi
Sosial Emosional
Yaitu
merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya mengendalikan amarah,
serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.
2.5 HUBUNGAN
FITRAH DENGAN PENDIDIKAN
Sebelum kita melihat hubungan fitrah dengan pendidikan
maka dilihat dulu dari segi pengertian.
a. Fitrah
adalah : kemampuan dasar yang ada pada diri seseorang yang harus dikembangkan
secara optimal.
b. Pendidikan
adalah : usaha sadar orang dewasa untuk mengembangkan kemampuan hidup secara
optimal, baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki
nilai-nilai religius dan sosial sebagai pengarah hidupnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan fitrah dengan
pendidikan adalah potensi yang ada atau kemampuan jasmani dan rohaniah yang
dapat dikembangkan tersebut. Pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan
sampai dimana tiitk optimal kemampuan-kemampuan tersebut untuk mencapainya.
Dalam sebuah hadits dapat juga dijelaskan yang
diriwayatkan oleh Muslim, yaitu :
Artinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan
suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dirinya beragama Yahudi atau
Nasrani dan Majusi.
Keutuhan terhadap pendidikan bukan sekedar untuk
mengembangkan aspek-aspek individualisasi dan sosialisasi, melainkan juga
mengarahkan perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang ukhawi.
Oleh karena itu diperlukan atau keharusan pendidikan.
Dengan demikian proses pendidikan Islam demi mencapai
tujuan yang total, menyeluruh dan meliputi segenap aspek kemampuan manusia
diperlukan landasan falsafah pendidikan yang menjangkau pengembangan potensi
kemanusiannya, falsafah pendidikan yang demikian itu bercorak menyeluruh dimana
iman melandasarinya. Sehingga proses pendidikan yang berwatak keagamaan mampu
mengarahkan kepada pembentukan manusia yang mukmin, atau dengan filsafat
pendidikan Islam bisa memikirkan perkembangannya secara mendasar, sistematik,
dan rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits agar berkembang secara
optimal dan bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Karena pendidikan yang mengarahkan ke arah perkembangan
yang optimal maka pendidikan dalam mengembangkannya harus memperhatikan
aspek-aspek kepentingan yang antara lain :
1) Aspek
Pedagogis
Dalam
hal ini manusia dipandang sebagai makhluk yang disebut ‘Homo Educondum’ yaitu
makhluk yang harus dididik.
Inilah
yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Jadi disini pendidikan berfungsi
memanusiakan manusia tanpa pendidikan sama sekali, manusia tidak dapat menjadi
manusia yang sebenarnya.
2) Aspek
Psikologis
Aspek
ini memandang manusia sebagai makhluk yang disebut ‘Psychophyisk Netral’ yaitu
makhluk yang memiliki kemandirian (selftandingness) jasmaniahnya dan rohaniah.
Didalam kemandirian itu manusia mempunyai potensi dasar yang merupakan benih
yang dapat tumbuh dan berkembang.
3) Aspek
Sosiologis Dan Kultural
Aspek
ini memandang bahwa manusia adalah makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar
untuk hidup bermasyarakat.
4) Aspek
Filosofis
Aspek
ini manusia adalah makhluk yang disebut ‘Homo Sapiens’ yaitu makhluk yang
mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Fitrah (potensi) adalah : kemampuan dasar yang dimiliki
oleh manusia dan perlu pengembangan ke arah yang lebih sempurna.
Hakekat fitrah manusia dalam pandangan filsafat
pendidikan Islam, manusia yang mempunyai potensi untuk berkembang, maka menghendaki
pembinaan yang mengacu kearah perkembangan tersebut yang memerlukan pendidikan
untuk mengembangkan yang optimal sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Potensi adalah kemampuan dasar yang ada pada diri manusia dan memerlukan
perkembangan maka alat untuk mengembangkan itu adalah pendidikan.
3.2 KRITIK
DAN SARAN
saya menyadari dalam pembuatan makalah ini banyak
terdapat kekurangannya, untuk itu saya sangat mengharapkan masukan-masukan
untuk menunjang perbaikan makalah ini untuk menuju kearah kesempurnaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Hasan
Langgulung. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta. Pustaka Al-Husna. 1988.
Ramayulis. Filsafat Pendidikan
Islam. Jakarta:
Kalam Mulia. 20
Barnadib, Imam. 1994. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga.
Mulkhan, Abdul Munir. 1993.
Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta:
SIPRESS
Asy’ary, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an.
Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar